Workshop Peningkatan Kompetensi Guru Melalui Pengenalan Dan Pelatihan Model Pembelajaran Oidde Di Mts-Ma Ma’arif Bangil

 Bangil, suarakonservatif.id  – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bekerja sama dengan MTs-MA Ma’arif Bangil menyelenggarakan workshop peningkatan kompetensi guru melalui pengenalan dan pelatihan model pembelajaran OIDDE (09/05/2026). Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan guru dalam menerapkan pembelajaran inovatif yang selaras dengan tuntutan abad ke-21 dan Kurikulum Merdeka.

Workshop yang diikuti oleh guru dari berbagai bidang studi ini berlangsung dengan antusias. Para peserta tidak hanya memperoleh pemahaman teoritis, tetapi juga pengalaman praktis dalam merancang dan mengimplementasikan model pembelajaran yang berpusat pada peserta didik.

Kegiatan ini menghadirkan narasumber utama yaitu dosen Pascasarjana UMM, Prof. Dr. Atok Miftachul Hudha, M.Pd., yang merupakan pakar di bidang model pembelajaran OIDDE sekaligus penggagas dan penemu model tersebut. Dalam pemaparannya, beliau menjelaskan konsep dasar serta implementasi model pembelajaran OIDDE secara komprehensif.

Model pembelajaran OIDDE merupakan akronim dari Orientation, Identify, Discussion, Decision, dan Engage in Behavior. Model ini dirancang untuk membantu peserta didik memahami permasalahan secara kontekstual dari lingkungan sekitar, mengidentifikasi isu permasalahan, berdiskusi secara kolaboratif, mengambil keputusan berdasarkan analisis, serta menerapkan hasil pembelajaran dalam kehidupan nyata.

Dalam penjelasannya, Prof. Atok menegaskan bahwa Model pembelajaran OIDDE sangat relevan untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis, literasi sains, kemampuan komunikasi, serta keterampilan pemecahan masalah peserta didik. Hal ini sejalan dengan kebutuhan pendidikan modern yang menekankan pada penguatan kompetensi abad ke-21.

Pelaksanaan workshop dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu pre-test, penyampaian materi, diskusi interaktif, praktik penyusunan perangkat pembelajaran berbasis model pembelajaran OIDDE, simulasi pembelajaran, serta diakhiri dengan post-test. Melalui tahapan ini, peserta mendapatkan pengalaman langsung dalam mengintegrasikan model pembelajaran inovatif ke dalam kegiatan belajar mengajar.

Selain itu, para guru juga diberi kesempatan untuk menyusun rancangan pembelajaran sesuai dengan mata pelajaran masing-masing. Kegiatan ini memberikan pemahaman bahwa pembelajaran tidak lagi berpusat pada guru, melainkan mendorong keterlibatan aktif peserta didik dalam menemukan solusi terhadap permasalahan pembelajaran.

Kepala MA Ma’arif Bangil, Moh. Yunus, M.Pd., menyampaikan apresiasinya terhadap pelaksanaan kegiatan ini. Ia menilai workshop tersebut sangat bermanfaat dalam memberikan pengetahuan dan pengalaman baru bagi guru.

“Workshop ini sangat bermanfaat karena memberikan pengetahuan dan pengalaman baru bagi guru dalam menerapkan pembelajaran yang lebih inovatif. Kami berharap model pembelajaran OIDDE dapat diterapkan secara nyata dalam proses pembelajaran,” ujarnya.

Tanggapan positif juga disampaikan oleh salah satu peserta, Emilia Khusnul Khotimah, S.Pd. Menurutnya, materi yang disampaikan tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga aplikatif.

“Model pembelajaran OIDDE mudah dipahami karena memiliki tahapan yang jelas dan sistematis. Melalui model ini, siswa dilatih untuk mengidentifikasi masalah, berdiskusi, mengambil keputusan, serta menerapkan hasil pembelajaran dalam kehidupan sehari-hari,” ungkapnya.

Antusiasme peserta terlihat dari keaktifan mereka selama kegiatan berlangsung, mulai dari sesi diskusi hingga praktik penyusunan perangkat pembelajaran. Hal ini menunjukkan tingginya minat guru dalam mengembangkan pembelajaran yang lebih inovatif dan berpusat pada peserta didik.

Kegiatan workshop ini tidak hanya meningkatkan pemahaman guru mengenai model pembelajaran OIDDE, tetapi juga menumbuhkan motivasi dan komitmen untuk terus mengembangkan profesionalisme. Program ini sekaligus menjadi bentuk nyata pemberdayaan masyarakat di bidang pendidikan.

Ke depan, diharapkan kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan, termasuk melalui pendampingan implementasi di kelas. Dengan demikian, model pembelajaran OIDDE dapat diterapkan secara optimal untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, mengembangkan kemampuan berpikir kritis, serta membentuk karakter peserta didik yang adaptif dan siap menghadapi tantangan masa depan. (TIM/RED)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *