PLAT NOMOR KALIMANTAN DI APLIKASI TAPI KENDARAAN PAKAI PLAT PAPUA — AKUN FIKTIF MAXIM DI SORONG BIKIN PENGEMUDI LOKAL MERUGI  

SORONG, suarakonservatif.id— Fenomena mencolok muncul di layanan pemesanan kendaraan Maxim di Kota Sorong: banyak kendaraan yang terdaftar di sistem menggunakan pelat nomor bertanda KT (Kalimantan Timur), namun saat datang menjemput penumpang, kendaraan yang hadir justru memakai pelat PB (Papua Barat Daya).

 

“Saat saya pesan, yang muncul di aplikasi nomor KT. Tapi saat tiba menjemput, yang datang kendaraan bernomor PB,” ungkap salah satu pengguna jasa Maxim di Sorong yang mengalami hal tersebut.

 

Dugaan praktik penggunaan akun tidak sah terbukti saat awak media mewawancarai salah satu pengemudi yang mengakui menggunakan akun fiktif tersebut. Pria berinisial R ini mengaku harus membayar sejumlah uang untuk bisa memakai akun itu.

 

“Kami bayar Rp250.000 per bulan. Tapi kalau pakai akun ini cepat dapat penumpangnya. Jadi saya pakai dua akun: satu yang asli Sorong, satu pakai akun ini,” jelasnya.

 

Praktik ini justru sangat merugikan para pengemudi yang taat aturan dan hanya menggunakan akun resmi sesuai data kendaraan aslinya.

 

“Saya merasa dirugikan dengan adanya akun-akun dari luar ini. Mereka lebih cepat dapat pesanan, sementara kami yang sah justru sepi. Ini tidak adil,” keluh seorang pengemudi yang menolak ikut menggunakan akun fiktif.

 

Pengemudi yang jujur ini pun menyampaikan harapan agar pihak kantor Maxim Sorong segera melakukan langkah tegas.

 

“Kami berharap pihak kantor Maxim Sorong dapat berkoordinasi dengan para penegak hukum untuk memberikan jeratan hukum kepada pengemudi yang berbuat curang tersebut dengan pasal penipuan. Hal ini perlu dilakukan segera untuk mencegah terjadinya kejahatan yang tidak akan bisa dilacak nantinya bila dilakukan oleh pengemudi nakal,” tegasnya.

 

Kondisi ini tidak hanya merugikan pengemudi lokal, tetapi juga berpotensi membahayakan penumpang, mengingat data kendaraan yang tertera di aplikasi tidak sama dengan kendaraan yang datang. Hingga kini belum ada kejelasan dari pihak manajemen Maxim terkait pengawasan dan penertiban akun-akun tersebut. (TIM/RED)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *