TEMINABUAN, suarakonservatif.id– Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun Kabupaten Sorong Selatan yang ke-23 pada 6 Agustus 2026, warga pribumi menutup akses menuju Tugu Sejarah Trikora 1962. Tindakan ini dilakukan sebagai bentuk protes atas ketidakpedulian Pemerintah Daerah yang dinilai mengabaikan situs bersejarah tersebut.
Peristiwa berlangsung pada Rabu, 5 Agustus 2026 pukul 18.18 WIT. Ferdinand Melles, selaku warga pribumi sekaligus pemilik tanah tempat tugu berdiri, bersama keenam anaknya secara resmi memasang palang penutup di lokasi. Bagi warga, palang tersebut bukan sekadar penghalang jalan, melainkan peringatan keras bahwa sejarah tidak boleh diabaikan oleh penguasa saat ini.
Tindakan ini bermula dari upaya dua tokoh masyarakat, Amon Melles dan Viktor Melles, yang sebelumnya menemui Kepala Dinas Sosial. Mereka meminta ketersediaan anggaran untuk membersihkan, mengecat, dan menghias tugu menyambut hari jadi daerah serta Hari Kemerdekaan RI. Warga bahkan menyatakan sanggup bekerja sendiri, asalkan biaya perawatan tersedia.
Namun jawaban yang diterima sangat mengecewakan. “Anggaran belum ada. Tunggu selesai HUT Kabupaten baru dibahas,” ujar Kepala Dinas Sosial. Ironisnya, terjadi saling lempar tanggung jawab antarinstansi: Dinas Sosial menyatakan dana berada di bawah wewenang Kesbangpol, sementara Kepala Dinas Kesbangpol menegaskan bahwa perawatan tugu adalah tugas Dinas Sosial.
Mendengar hal itu, Amon Melles menyampaikan pernyataan yang menyentuh hati:
“Jika Pemerintah Kabupaten menganggap sejarah Trikora hanyalah mitos dan kebohongan, maka bongkarlah tugu ini dari tanah kami. Sungguh disayangkan jika generasi mendatang tidak tahu sejarah pembebasan Irian Barat. Padahal bangsa yang besar adalah bangsa yang mengenal sejarah dan jati dirinya sendiri.”
Kini palang itu berdiri tegak, menjadi simbol bahwa Kabupaten Sorong Selatan lahir dari semangat Trikora 1962. Masyarakat berharap palang ini tidak dibuka kembali oleh warga, melainkan oleh Pemerintah Daerah melalui tindakan nyata merawat dan menghormati sejarah yang melahirkan daerah ini. (TIM/RED)

