
PROBOLINGGO, suara konservatif.id – Kemerdekaan tidak hanya diperingati dengan upacara dan seremoni, tetapi juga harus diwujudkan melalui tindakan nyata yang membawa manfaat bagi masyarakat. Bagi Institut Ahmad Dahlan (IAD) Probolinggo, salah satu cara terbaik mengisi kemerdekaan adalah dengan memuliakan guru, sosok yang setiap hari mengabdikan hidupnya untuk mencerdaskan generasi penerus bangsa.
Dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, IAD Probolinggo meluncurkan program “Hadiah Guru Mengabdi”, sebuah Beasiswa Pendidikan Muhammadiyah yang diperuntukkan bagi 100 Guru Non-ASN di Kota Probolinggo untuk menempuh Program Pascasarjana (S2) Pendidikan Agama Islam hingga selesai.
Program ini merupakan bentuk penghormatan kepada para guru yang selama ini mengabdikan diri dengan penuh keikhlasan, meskipun sering kali menghadapi berbagai keterbatasan. Di tangan para guru itulah nilai-nilai kebangsaan, karakter, ilmu pengetahuan, dan akhlak mulia diwariskan kepada generasi muda Indonesia.
Rektor Institut Ahmad Dahlan Probolinggo, Dr. Benny Prasetiya, M.Pd.I, menegaskan bahwa program ini bukan sekadar bantuan biaya pendidikan ataupun promosi penerimaan mahasiswa baru. Lebih dari itu, program ini merupakan Beasiswa Pendidikan Muhammadiyah yang lahir dari semangat penghormatan terhadap guru sebagai pahlawan bangsa.
“Kemerdekaan Indonesia tidak akan memiliki makna apabila para guru yang setiap hari memperjuangkan masa depan bangsa belum mendapatkan kesempatan yang sama untuk terus berkembang. Karena itu, menyambut Hari Kemerdekaan tahun ini, IAD Probolinggo menghadiahkan Beasiswa Pendidikan Muhammadiyah sebagai bentuk penghargaan kepada Guru Non-ASN. Ini bukan program biaya kuliah murah, bukan potongan biaya pendidikan, tetapi murni beasiswa sebagai bentuk penghormatan kepada para pahlawan pendidikan,” tegasnya.
Melalui program tersebut, setiap penerima akan memperoleh Beasiswa Pendidikan Muhammadiyah senilai Rp6.000.000 yang diberikan selama masa studi Pascasarjana Pendidikan Agama Islam. Bantuan tersebut dialokasikan sebesar Rp2.000.000 setiap semester selama tiga semester, sehingga para guru dapat menyelesaikan studi dengan lebih ringan.
Sebagai bentuk komitmen memberikan pelayanan terbaik, IAD Probolinggo juga menyediakan skema pembayaran yang fleksibel. Guru dapat mengangsur biaya yang menjadi tanggungannya sekitar Rp350.000 per bulan selama 18 kali pembayaran, sehingga kesempatan melanjutkan pendidikan tidak lagi terkendala oleh faktor ekonomi.
Program ini dibuka khusus bagi Guru Non-ASN di Kota Probolinggo dengan kuota terbatas sebanyak 100 orang, dan pendaftaran berlangsung hingga 20 Agustus 2026.
Menurut Dr. Benny Prasetiya, guru adalah profesi yang memiliki peran strategis dalam menjaga cita-cita kemerdekaan Indonesia. Jika dahulu para pahlawan memperjuangkan kemerdekaan melalui medan perjuangan, maka hari ini para guru mempertahankan kemerdekaan melalui ruang-ruang kelas dengan mendidik anak-anak bangsa agar menjadi generasi yang cerdas, berkarakter, dan berakhlak mulia.
Program “Hadiah Guru Mengabdi” juga merupakan implementasi nyata Teologi Al-Ma’un, nilai dasar gerakan Muhammadiyah yang mengajarkan bahwa keimanan harus diwujudkan dalam tindakan sosial yang membawa manfaat bagi sesama. Bagi Muhammadiyah, pendidikan bukan sekadar proses transfer ilmu, tetapi gerakan pemberdayaan yang menghadirkan keadilan dan membuka akses pendidikan bagi mereka yang telah banyak berjasa kepada masyarakat.
Melalui program ini, IAD Probolinggo ingin menghadirkan recognition kepada Guru Non-ASN atas dedikasi mereka yang selama ini sering bekerja dalam keterbatasan, namun tetap istiqamah mengabdi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Guru tidak hanya layak dihormati melalui kata-kata, tetapi juga melalui kebijakan yang memberikan kesempatan untuk terus meningkatkan kompetensi dan kualitas dirinya.
Sebagai institusi pendidikan tinggi yang berlandaskan nilai-nilai Islam Berkemajuan, IAD Probolinggo meyakini bahwa investasi terbaik bagi masa depan Indonesia bukan hanya membangun gedung yang megah atau menghadirkan teknologi yang canggih, tetapi membangun kualitas para guru. Sebab, di tangan guru yang berkualitas akan lahir generasi yang mampu membawa Indonesia menjadi bangsa yang maju, berdaya saing, dan bermartabat.
Momentum Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia menjadi pengingat bahwa kemerdekaan harus terus diisi dengan karya dan kebermanfaatan. Melalui 100 Beasiswa Pendidikan Muhammadiyah bagi Guru Non-ASN, IAD Probolinggo ingin menyampaikan pesan bahwa cara terbaik mencintai Indonesia adalah dengan memuliakan guru, karena dari tangan merekalah masa depan bangsa dibentuk setiap hari.
“Kami percaya, bangsa yang besar bukan hanya mengenang jasa para pahlawan masa lalu, tetapi juga menghormati para pahlawan masa kini. Guru adalah pahlawan bangsa yang menjaga nyala kemerdekaan melalui pendidikan. Karena itu, memuliakan guru adalah bagian dari memuliakan Indonesia,” pungkas Dr. Benny Prasetiya. (Red/Ben)

