Sorong, suarakonservatif.id- Kapolda Papua Barat Daya Brigjen. Pol. Gatot Haribowo, S.I.K., M.A.P, mengadakan kegiatan silaturahmi dan buka puasa bersama awak media di Aula Gedung Vicon Mapolda Papua Barat Daya, Kamis (12/03/2026).
Tampak yang hadir saat itu, wartawan dan wartawati dari beberapa media di wilayah Papua Barat Daya bersama Kapolda Papua Barat Daya, Wakapolda, Irwasda, Dirkrimsus, Dirkrimum,Dir Intel, Dirnarkoba,Kabid Propam, serta tim Humas Polda dan beberapa anggota Polda Papua Barat Daya.
Dalam sambutannya, Kapolda Papua Barat Daya menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh awak media yang selama ini telah memberikan dukungan kepada Polda Papua Barat Daya yang menurutnya masih muda dan masih dalam pembenahan.
Setelah sambutan dari Kapolda, acara diisi ceramah oleh Ustad Agung Sibela, dengan mengawali pantun yang di sambut meriah oleh seluruh peserta yang hadir.
Ustad Agung Sibela mengambil tema tentang indahnya perbedaan dan pentingnya komunikasi, hal itu diumpamakan oleh sang Ustad dengan tangan kiri dan tangan kanan.
“Kedua tangan ini ada kanan dan kiri, saat tangan kiri gatal pasti tangan kanan menggarut tangan kiri, begitu juga tangan kanan gatal maka tangan kiri akan menggarut, kalo dua duanya gatal maka saling menggarut” ucap Ustad Agung Sibela .
Ustad Agung Sibela juga melanjutkan perumpamaan keindahan perbedaan dengan jari jari tangan.
“Bayangkan bila semua jari kita bentuknya seperti jempol” lanjut Ustad diiringi tawa dari seluruh peserta.
Ketua PPWI (Persatuan Pewarta Warga Indonesia) wilayah Papua Barat Daya, Riswandi Panjaitan, mengatakan apa yang disampaikan Ustad Agung Sibela adalah sesuai dengan kenyataan hidup .
“Jari jempol ibarat TNI/POLRI yang bertugas memberi keamanan, jari telunjuk ibarat pemerintah, jadi kalo pemerintah menunjuk agar dibangun kantor Polda maka akan dibangun, sedangkan jari tengah ibarat awak media yang mengawasi, jari manis diibaratkan ibu ibu yang berperan penting juga dan kelingking diibaratkan anak anak muda, bila seluruh jari bersatu maka bisa mengangkat benda berat. Bila hanya satu jari tidak akan sanggup. Saya sangat senang mendengar apa yang disampaikan beliau, artinya dari situ mengartikan walaupun kita berbeda tetapi kompak maka semua akan berjalan lancar baik dari keamanan, pembangunan dan kesejahteraan masyarakat.” kata Riswandi sambil mengingat apa yang disampaikan Ustad Agung Sibela .
Ustad yang berperawakan kecil ini juga menceritakan perumpamaan tentang pentingnya komunikasi, hal itu diumpamakan tentang sepasang suami istri yang membahas anting sang istri yang hilang sebelah.
” Keduanya berniat baik, tapi tidak ada transparansi, jadi sang suami berniat membeli anting sebelah agar sang istri bisa senang, padahal uangnya rencana untuk beli ban sepeda motor yang pecah, jadi sang suami mengaku kepada sang istri belum punya uang untuk beli ban karena uang yang ada di kantongnya direncanakan untuk beli anting tanpa sepengetahuan sang istri. Sementara istri yang kasihan melihat sang suami juga diam diam pergi menjual antingnya yang sebelah lagi untuk membeli ban motor suaminya. Saat mereka bertemu sang suami menunjukkan anting yang dibelinya, sedangkan sang istri menunjukkan ban motor yang dibelinya.”lanjut Riswandi menceritakan apa yang didengar dari sang Ustad.
Menurut Riswandi Panjaitan, apa yang disampaikan sang Ustad memang sering terjadi di lapangan, dimana awak media terkadang menaikkan berita dengan niat baik agar Polri semakin maju dan dipercaya masyarakat, namun disatu sisi pihak kepolisian tidak mau komunikasi dan transparan saat di konfirmasi oleh wartawan, karena tujuan baik agar tidak menjadi viral sebelum ada hasil penyidikan untuk satu perkara yang sedang diperiksa.
” Karena tidak ada komunikasi saat awak media mencoba konfirmasi, akhirnya muncul pemberitaan dari informasi yang diberikan pihak lain sebagai nara sumber yang biasanya belum bisa dipastikan kebenarannya, dan di akhir pemberitaan awak media pasti mencantumkan bahwa sudah berusaha konfirmasi namun tidak ada jawaban dari kepolisian” ujar Riswandi.
Khusus di Polda Papua Barat Daya, Riswandi mengakui Humas Polda aktif komunikasi dengan awak media, menurutnya hal tersebut sangat bermanfaat agar pemberitaan yang dimuat bisa berimbang.
“Seperti yang disampaikan sang Ustad Agung Sibela, dengan komunikasi baik pasti akan menuai hasil yang baik, saya beberapa kali menahan pemberitaan yang hampir memburukkan nama Polda Papua Barat Daya, namun setelah dikonfirmasi melalui Humas Polda dan dijelaskan bahwa apa yang disampaikan narasumber diluar tidak benar, dengan bukti yang ada, akhirnya tidak ada muncul pemberitaannya”tutup Riswandi yang juga menjadi pemimpin redaksi Media Suara Konservatif.
(Lauren Kokmala/Red)

